Welcome To My Blog

Thanks for Visiting my Blog :)
I wrote my minds in here, I hope my articles will be useful for you.
If you don't mind, please, be my follower so that we can share our minds, thanks.

mylife-diechemie.blogspot.com
My Email: dertraum0127@gmail.com

Thank you for all participants supporting this blog. Especially the download link's sources and bibliographies.

I'm not an expert teacher or lecturer of chemistry. I was only a student from SMA NEGERI 15 SURABAYA who had been one of the Bronze Medalist Participants of Olimpiade Sains Nasional X (2011) of Chemistry In Manado, North Sulawesi, 11 - 16 September 2011 and graduated in 2012. Now, I'm studying at Universitas Airlangga in Surabaya, Indonesia. I do love chemistry and I would like to help them who had difficulties in studying chemistry. That's why, please understand me if you found some misconcepts in my entries. Suggestions are always necessary in order to develop this blog. And I'm sorry because my English isn't so well.

All posts are originally created by me. I never stole from any sites or somebody's blog. Although sometimes I took pictures or data from other sites, I always wrote the source of that pictures or data.


Protected by Copyscape Unique Content Checker

About Me

My Photo
Surabaya, East Java, Indonesia
I born on 1 August 1994 in Pangkalan Bun, a beautiful city in Borneo, Indonesia. I'm studying in 15 Senior High School of Surabaya. And about my blog, please, I'm glad to receive your comments and suggestions that can make my blog becomes better, Thanks. This blog is dedicated for Chemistry, so am I. I hope with chemistry, we'll get a brighter future.

Sunday, July 14, 2013

MEMINIMALISIR EFEK SAMPING ASAM MEFENEMAT PADA HEPAR MENCIT (Mus musculus) DENGAN PENAMBAHAN GUGUS KLORIDA







1. PENDAHULUAN
  Asam mefenamat adalah salah satu obat anti nyeri yang dapat digunakan sebagai obat penghilang rasa nyeri kepala. Namun, efek samping asam mefenamat cukup mengkhawatirkan. Diantaranya: iritasi lambung, kolik usus, mual, muntah dan diare, rasa mengantuk, pusing, sakit kepala, penglihatan kabur, vertigo, dyspepsia, dan kejang. Selain itu overdosis asam mefenamat dapat menyebabkan disfungsi hepar dan kerusakan ginjal akut (Ejaz dkk, 2004).
 Penelitian ini bertujuan untuk membantu masyarakat untuk mencegah diri dari dampak buruk suatu obat. Asam Mefenamat bekerja dengan cara menghambat sintesa prostaglandin dalam jaringan tubuh dengan menghambat enzim siklooksiginase sehingga mempunyai efek analgesik, antiinflamasi dan antipiretik. Asam mefenamat ini mempunyai struktur kimia seperti gambar 1 dengan nama asam 2-(2,3-dimetilfenil)-aminobenzoat.
  Nyeri timbul oleh karena aktivasi dan sensitisasi sistem nosiseptif, baik perifer maupun sentral. Dalam keadaan normal, reseptor tersebut tidak aktif. Dalam keadaan patologis,  misalnya inflamasi, nosiseptor menjadi sensitif bahkan hipersensitif. Adanya pencederaan jaringan akan membebaskan berbagai jenis mediator inflamasi, seperti prostaglandin, bradikinin, histamin, dan sebagainya. Mediator inflamasi dapat mengaktivasi nosiseptor yang menyebabkan munculnya nyeri. NSAID mampu menghambat sintesis prostaglandin dan sangat bermanfaat sebagai antinyeri.
 Sepuluh tahun yang lalu, Wittenberg dkk (1993) membuktikan bahwa dari jaringan sinovium melepaskan berbagai eicosanoidprostaglandin E2 (PGE2), 6-keto-PGF1-alpha, leukotriene B4 (LTB4), dan LTC4, tapi bukan dari bagian rawan atau tulang sendi. Kelompok peneliti ini juga menemukan bahwa diclofenak dan indomethacin dapat menghambat pembebasan prostaglandin, tanpa mempengaruhi produksi leukotriene (Wittenberg et al, 1993)
2. METODE
  Penelitian ini dirancang dengan menggunakan metode randomized post test controlled design. Secara skematis, rancangan penelitian dapat digambarkan sebagai gambar 2.
  Subyek penelitian pada penelitian ini adalah mencit (Mus musculus) dewasa berjenis kelamin jantan, dengan umur sekitar 3 bulan, berat berkisar 20 gram, dan dengan kondisi sehat fisik. Mencit diperoleh dari Unit Hewan Coba Departemen Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya.

  Subyek penelitian diambil secara random sampling, sebanyak 33 ekor mencit (Mus musculus). Pengambilan data sampel serum hewan coba dilakukan satu kali, yaitu setelah penelitian dilakukan.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN 
3.1 Sintesis Analog Asam Mefenamat


  Setelah 3 padatan dilarutkan dalam air, terbentuk larutan putih sedikit keruh kecoklatan. Penambahan anilin menggelapkan larutan. Kemudian dilakukan refluks selama kurang lebih 2 jam sehingga terbentuklah padatan kristal kuning-orange. Rekristalisasi dilakukan untuk memurnikan produk yang terbentuk dengan rendemen 62,21 % (6,408 gram). Tahap finalisasi dimana produk dipanaskan membentuk padatan amorf orange kekuningan dengan titik leleh 221,0 ± 0,5oC.

3.2 Uji Toksisitas Jangka Pendek   
  Uji toksisitas jangka pendek (subkronik) guna mengetahui efek hepatotoksik asam mefenamat dan efek hepatoprotektif analog asam mefenamat terhadap kadar transaminase serum (SGOT dan SGPT) mencit (Mus musculus) dilakukan dengan membandingkan kadar SGOT dan SGPT dari masing-masing kelompok perlakuan, yaitu kontrol (C), asam mefenamat dosis 1,30 mg/kg BB (M1), dan analog asam mefenamat dosis 1,30 mg/kg BB (M2). Penelitian ini dilakukan di Unit Hewan Coba Departemen Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan Instalasi Patologi Klinik RSUD dr Sutomo
  Pengukuran dilakukan dengan menggunakan serum mencit, diambil secara intrakardial dengan menggunakan spuit 1 ml dan dimasukkan ke dalam serum separator tube. Pemeriksaan serum dilakukan di Instalasi Patologi Klinik RSUD dr Sutomo. Semua data yang diperoleh dicatat dan dilakukan pengolahan dengan metode SPSS (Statistic Product Service Solution) versi 16.0 menggunakan uji One-way ANOVA (untuk data parametrik) dan uji Kruskal-Wallis (untuk data non-parametrik).
  Data (1) menunjukkan adanya perbedaan kadar SGOT dan SGPT pada setiap kelompok. Sehingga, untuk membuktikan perbedaan kemaknaan perlu dilanjutkan dengan uji statistik. Setelah memperoleh sampel, maka uji statistik yang pertama dilakukan adalah uji deskriptif untuk melihat apakah ada perbedaan rerata dan standar deviasi dari sampel.
   Dari data (2) tersebut tampak terdapat peningkatan rerata (mean) dan standar deviasi dari kelompok M1 apabila dibandingkan dengan kelompok kontrol dan M2. Untuk itu perlu dilakukan uji statistik lebih lanjut guna melihat apakah peningkatan tersebut signifikan atau tidak.
  Uji normalitas dimaksudkan untuk melihat apakah sampel terdistribusi normal atau tidak. Apabila sampel terdistribusi normal (sig>α, dimana α = 0,05) maka dapat dilanjutkan dengan uji homogenitas dan uji parametrik, yang dalam kasus ini akan menggunakan uji One-way ANOVA, sedangkan apabila sampel tidak terdistribusi normal maka dilanjutkan dengan uji non-parametrik Kruskal-Wallis.
  Dalam uji normalitas Kolmogorov-Smirnov yang menghasil kan data (3), semua sampel mempunyai nilai signifikansi 0,200, yang berarti lebih besar dari α. Hal ini mempunyai arti bahwa sampel terdistribusi normal dan dapat dilakukan uji homogenitas. Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang akan dianalisis mempunyai kesamaan varian antara kelompok. Sampel dikatakan homogen apabila memenuhi syarat sig>α, dimana α = 0,05.
  Berdasarkan prosedur percobaan, didapat nilai signifikansi dari uji homogenitas, SGOT = 0,962 dan SGPT = 0,470, yaitu lebih besar dari α. Hal ini mengandung arti bahwa sampel bersifat homogen dan dapat dilakukan uji parametrik One-way ANOVA. Uji One-way ANOVA dilakukan untuk membandingkan dan mengetahui adanya perbedaan pada kelompok yang jumlahnya lebih dari dua. Pada penelitian ini terdapat tiga kelompok sehingga menggunakan uji One-way ANOVA. Untuk uji ini terdapat dua hipotesis, yaitu Ho dan Ha. Ho adalah kadar SGOT atau SGPT antar kelompok identik dan Ha adalah kadar SGOT atau SGPT antar kelompok tidak identik. Apabila nilai signifikansi lebih dari 0,05 maka Ho diterima, jika kurang dari 0,05 maka Ho ditolak.
 Dari uji One-way ANOVA, didapat data (4) dimana dapat dilihat bahwa perbandingan antar kelompok memberikan hasil signifikansi lebih dari α, artinya Ho diterima. Ho adalah kadar SGOT dan SGPT antar kelompok identik dan Ha adalah kadar SGOT dan SGPT antar kelompok tidak identik. Karena Ho diterima maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan SGOT dan SGPT yang bermakna dari masing-masing kelompok.

3.3 Uji Nyeri Writhing Test 
  Uji nyeri writhing test dimaksudkan untuk melihat apakah ada efek antinyeri dari analog asam mefenamat bila dibandingkan dengan efek antinyeri dari asam mefenamat itu sendiri. Percobaan ini ditujukan untuk melihat respon mencit terhadap asam asetat yang dapat menimbulkan respon menggeliat dari mencit ketika menahan nyeri pada perut. Rasa nyeri yang disebabkan pemberian induktor nyeri akan menyebabkan timbulnya writhing (geliat) yang dapat diamati sebagai torsi pada satu sisi, menarik kaki ke belakang, penarikan kembali abdomen, kejang tetani dengan membengkokan kepala dan kaki ke belakang. Efek analgetik dari analog asam mefenamat diharapkan akan mengurangi atau menghilangkan respon tersebut. Hasil jumlah geliat mencit dapat dilihat pada data (5a).
  Uji statistik pertama yang dilakukan adalah uji deskriptif untuk melihat nilai  minimum, maksimum, rerata, dan standar deviasi dari sampel. Dari data (5b) tersebut dilihat bahwa terjadi peningkatan rerata dari kelompok M1 pada setiap menit dan total. Untuk itu perlu dilakukan uji statistik lebih lanjut guna melihat apakah peningkatan tersebut signifikan atau tidak.
  Uji normalitas dimaksudkan untuk melihat apakah sampel terdistribusi normal atau tidak. Apabila sampel terdistribusi normal (sig>α, dimana α = 0,05) maka dapat dilanjutkan dengan uji homogenitas dan uji parametrik, yang dalam kasus ini akan menggunakan uji One-way ANOVA, sedangkan apabila sampel tidak terdistribusi normal maka dilanjutkan dengan uji non-parametrik Kruskal-Wallis.
 Dalam uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dengan hasil yang dapat dilihat pada data (6), sampel tiap kelompok pada menit 5, 10, 15, 20, 25, dan 30 mempunyai nilai signifikansi lebih kecil dari α. Hal ini mempunyai arti bahwa sampel tidak terdistribusi normal sehingga uji selanjutnya menggunakan uji non-parametrik. Hanya pada total geliat yang mempunyai signifikansi 0,200 yaitu lebih besar dari α, yang selanjutnya akan dilakukan tes homogenitas. Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang akan dianalisis mempunyai kesamaan varian antara kelompok. Sampel dikatakan homogen apabila memenuhi syarat sig>α, dimana α = 0,05.
   Uji homogenitas varians dari total geliat menunjukkan signifikansi 0,004 yang berarti lebih kecil dari α. Hal ini member arti bahwa sampel tidak homogen sehingga uji selanjutnya menggunakan uji non-parametrik. Uji  non-parametrik  yang  digunakan  adalah  uji Kruskal-Wallis. Uji Kruskal-Wallis dilakukan untuk membandingkan tiga atau lebih kelompok data sampel yang tidak terdistribusi normal. Hasil  signifikansi  yang ditunjukan oleh data (7) menunjukkan  hasil  lebih  dari  α pada  menit  5,  menit  10, menit  15,  menit  20,  dan  total  geliat,  hal  ini  berarti  Ho  diterima.  Ho  adalah  jumlah geliat  antar  kelompok  identik,  sedangkan  Ha  adalah  jumlah  geliat  antar  kelompok tidak  identik.  Karena  Ho  diterima  maka  disimpulkan  pada  menit  tersebut  dan  total geliat dari masing-masing kelompok tidak ada perbedaan. Pada menit 25 dan menit 30, nilai signifikansi lebih kecil dari α, sehingga Ho ditolak. Karena itu dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan bermakna jumlah geliat antar kelompok pada menit-menit tersebut.


3.4 Diskusi 
   Dari uji toksisitas tiga kelompok yaitu kontrol, asam mefenamat, dan analog asam mefenamat, tidak ditemukan perbedaan kadar SGOT dan SGPT. Hal ini bisa disebabkan karena waktu paparan yang terlalu singkat yaitu 7 hari sehingga belum mampu menyebabkan kerusakan fungsi hepar, juga bisa disebabkan karena dosis yang digunakan terlalu rendah sehingga tidak dapat mencapai dosis toksik. Karena kadar SGOT dan SGPT dari tiap kelompok identik, maka tidak dapat dibuat perbandingan apakah analog asam mefenamat ini mempunyai efek toksik minimal terhadap hepar, sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui hal tersebut.


4. KESIMPULAN
   Kesimpulan dari penelitian ini adalah analog asam mefenamat dengan penambahan substituen kloro tidak mempunyai efek samping minimal terhadap hepar. Analog asam mefenamat dengan penambahan substituent kloro mempunyai efek terapi sebagai anti nyeri. Perlu dilakukan percobaan dengan metode lain demi mendukung terwujudnya program ini lebih baik lagi.

5. PUSTAKA ACUAN
Arinc, A , Iscan, M , Adali, O & Guray, T .1988.Effect of Benzene on Drug Metabolizing Enzyme Activities of Lung and Liver Microsoms. Journal of Islamic Academy of Sciences.

Ejaz, P, Bhojani, K, Joshi, VR. 2004. NSAIDs and Kidney. Journal of the Association of Physicians of India vol. 5. 

Fessenden. 2009. Kimia Organik Jilid 1 (terjemahan). Jakarta: Penerbit Erlangga.

Fessenden .2009. Kimia Organik Jilid 2 (terjemahan). Jakarta: Penerbit Erlangga.

Hunter, LJ ,Wood, DM, Dargan, IP. 2011.The patterns of toxicity and management of acute nonsteroidal anti-inflammatory drug (NSAID) Overdose. Dovepress: London.

Leonard, J.; Lygo, B.; Procter, G. "Advanced Practical Organic Chemistry" 1998, Stanley Thomas Publishers Ltd 

Lelo A.: Pertimbangan yang muncul dari OAINS yang digunakan. Dalam, Naskah Lengkap  Temu  Ilmiah  Rematologi  2001.  (eds.  Setyohadi  B,  Kasjmir  YI), Ikatan Reumatologi Indonesia, Jakarta, pp:96-9,2001

Wittenberg RH, Willburger RE, Kleemeyer KS, Peskar BA. 1993. In vitro release of prostaglandins and leukotrienes from synovialtissue, cartilage, and bone in degenerative joint diseases. Arthritis Rheum. 36(10):1444-50.



LAMPIRAN