Welcome To My Blog

Thanks for Visiting my Blog :)
I wrote my minds in here, I hope my articles will be useful for you.
If you don't mind, please, be my follower so that we can share our minds, thanks.

mylife-diechemie.blogspot.com
My Email: dertraum0127@gmail.com

Thank you for all participants supporting this blog. Especially the download link's sources and bibliographies.

I'm not an expert teacher or lecturer of chemistry. I was only a student from SMA NEGERI 15 SURABAYA who had been one of the Bronze Medalist Participants of Olimpiade Sains Nasional X (2011) of Chemistry In Manado, North Sulawesi, 11 - 16 September 2011 and graduated in 2012. Now, I'm studying at Universitas Airlangga in Surabaya, Indonesia. I do love chemistry and I would like to help them who had difficulties in studying chemistry. That's why, please understand me if you found some misconcepts in my entries. Suggestions are always necessary in order to develop this blog. And I'm sorry because my English isn't so well.

All posts are originally created by me. I never stole from any sites or somebody's blog. Although sometimes I took pictures or data from other sites, I always wrote the source of that pictures or data.


Protected by Copyscape Unique Content Checker

Saturday, September 24, 2011

Sel Volta dan Sel Elektrolisis

Mumpung ada tugas laporan, sekalian dibikin blog deh, :P

Sel Volta

Sel Volta (Sel Galvani) adalah sel elektrokimia yang dapat menyebabkan terjadinya energi listrik dari suatu reaksi redoks yang spontan. Sel Volta ini ditemukan oleh Luigi Galvani dan Alessandro Guiseppe Volta. Sel Volta terdiri dari 2 wadah, jembatan garam, anoda, dan katoda. Pada skala laboratorium, sel volta yang paling sering digunakan adalah Sel Volta Zn – Cu dimana jembatan garam yang digunakan adalah KNO3 + Agar – agar atau kertas saring yang dibasahi dengan larutan NaCl 1 M.

Sel Volta pada kehidupan sehari – hari dapat ditemukan pada Aki kendaraan bermotor dimana elektroda yang digunakan adalah PbSO4 dan Pb serta larutan penghantar yang digunakan adalah H2SO4. Fungsi sel volta adalah menciptakan suatu reaksi kimia spontan sehingga dapat menghasilkan energi listrik dan dapat digunakan dalam keperluan sehari – hari yang berhubungan dengan energi listrik.

Suatu zat ketika membentuk kesetimbangan antara fasa padat dan fasa cair akan memberikan energi spontan yang nilai beda potensialnya dapat diukur dengan persamaan: ∆G = n F Eo. Dimana ∆G adalah perubahan energi bebas (kJ mol-1), n adalah mol elektron, F adalah tetapan Faraday (96450 C mol-1), dan Eo adalah potensial sel standar. Tetapi dalam kenyataannya, nilai potensial sel akan lebih akurat apabila diukur melalui eksperimen tertentu.

Dalam pembuatan sel volta, anoda (kutub negatif) merupakan logam yang mengalami oksidasi dan katoda (kutub positif) merupakan logam yang mengalami reduksi. Larutan penghantar yang paling baik dalam sel ini adalah larutan yang memiliki ion sejenis dengan elektroda yang digunakan. Hal ini bertujuan agar ketika elektroda dicelupkan kedalam larutan penghantar, tidak akan terjadi suatu reaksi kimia yang dapat melarutkan atau mengganti (Displacement Reaction) elektroda yang digunakan.


Sel Elektrolisis

Merupakan sel elektrokimia yang memiliki konsep berlawanan dengan konsep Sel Volta. Sel elektrolisis adalah sel yang menggunakan sumber energi listrik (DC) dari luar sistem sehingga dapat memaksa suatu reaksi non spontan dapat berlangsung. Arus listrik yang digunakan tentu adalah arus listrik searah (DC) karena kita memerlukan suatu arus elektron yang berjalan satu arah dari kutub negatif ke kutub positif agar sel elektrolisis dapat berjalan sempurna.

Dalam prakteknya, sel elektrolisis dalam skala pabrik biasa digunakan untuk pembuatan Aluminium, Natrium, dan unsur – unsur murni yang cenderung reaktif karena unsur – unsur reaktif lebih banyak kelimpahannya dalam bentuk senyawa. Itulah tujuan dasar dari sel elektrolisis. Aplikasi pada skala pabrik yang paling terkenal di kalangan SMA adalah Sel Hall – Heroult, yaitu sel elektrolisis yang bertujuan untuk menghasilkan Aluminium murni dari bijih alumina (Al2O3). Dalam kenyataannya (skala pabrik), reaksi pada sel elektrolisis yang digunakan merupakan reaksi bertahap yang rumit karena tidak semua zat akan langsung terelektrolisis membentuk bentuk murninya. Misalnya adalah pada elektrolisis bijih emas (Au) menggunakan larutan sianida (HCN).

Pada sel elektrolisis, berlaku Hukum Faraday I yang intinya berbunyi bahwa massa produk yang dibentuk pada suatu sel elektrolisis berbanding lurus dengan arus listrik yang dialirkan pada sel tersebut. Hukum Faraday I dapat dinyatakan dalam persamaan m = e I t F-1. Dimana m adalah massa zat produk, e adalah massa molar ekivalen, I adalah arus listrik dalam Ampere, t adalah waktu lamanya proses elektrolisis, dan F adalah tetapan Faraday (96450 C mol-1).

Hukum Faraday II berlaku pada beberapa sel elektrolisis yang dihubungkan secara seri, inti dari Hukum Faraday II adalah karena pada rangkaian seri semua rangkaian akan memiliki arus listrik yang sama dan konstan, maka suatu massa produk per massa molar ekivalen dari suatu larutan sebanding dengan massa produk per massa molar ekivalen larutan lain. Hukum Faraday II dapat dinyatakan dalam persamaan m1 e1-1 = m2 e2-1.

7 comments: